cc

Kamis, 16 Juli 2020

Menyiapkan "Normal Baru" Pembelajaran yang Berpihak pada Siswa Kita


Tahun ajaran baru ini menjadi momentum pengelola sekolah dan orangtua untuk membantu siswa beradaptasi memasuki era " kenormalan baru" belajar di masa pandemi.
Kenormalan baru" atau "new normal" ini bukan berarti siswa dipersiapkan kembali bersekolah, namun membantu menyiapkan siswa agar mampu beradaptasi dengan situasi belajar di tengah wabah Covid-19.
Lalu apa yang perlu kita bantu agar siswa lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin ditimbulkan oleh kenormalan baru belajar ini?

Evaluasi belajar dari rumah

Sebelum dimulainya tahun ajaran baru, guru, kepala sekolah, orangtua, dan siswa perlu berdiskusi bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan belajar dari rumah. Terutama untuk menentukan, hal-hal apa yang harus dilanjutkan, dan apa yang harus diubah.

Esensi belajar sesungguhnya memberi tantangan dan pengalaman pada anak. Hanya bila beban tantangan tugasnya hanya mencatat ulang buku paket atau menyelesaikan soal-soal, maka siswa hanya belajar pada level rendah.
Mereka hanya belajar untuk menghafal atau mengulang gagasan yang ada di buku.
Sekarang banyak guru yang mulai terbiasa memanfaatkan berbagai aplikasi untuk pembelajaran, seperti Google Classroom, Edmodo, Quizzes, Zoom, Webex, atau sejenisnya.
Yang terpenting dari belajar jarak jauh ini bukan hanya pada penggunaan teknologi. Jangan sampai penggunaan teknologi hanya menggantikan tempat ceramah guru dari ruang kelas berpindah tempat melalui teknologi virtual.
Banyak unsur yang lebih penting dalam menyiapkan proses belajar sekalipun dalam jarak jauh.

Membuka diskusi dengan anak

Penting untuk berkomunikasi tentang situasi yang berubah ini dengan anak. Guru dan orangtua perlu mendengar suara anak.
Tanyakan kepada mereka, apa yang membuatnya bersemangat belajar? Apa yang bermanfaat dan dapat dikembangkan dalam proses belajar mereka yang berubah?
Suara anak bisa menjadi bagian desain pembaruan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang oleh guru.

Bagaimana bila harus masuk ke sekolah?


Bila diputuskan siswa kembali bersekolah, sebaiknya tidak diberlakukan untuk semua sekolah. Hanya daerah zona hijau atau tanpa kasus baru Covid-19 yang diperkenankan membuka sekolah.
Kitapun harus belajar dari beberapa negara yang sudah membuka sekolah. Perancis dan Korea Selatan kembali menutup sekolah, setelah ditemukan kembali kasus baru Covid-19.
Pembukaan sekolah di Indonesia harus betul-betul mempertimbangkan keamanan siswa. Tatap muka di sekolah ini, misalnya diprioritaskan untuk siswa yang memerlukan.
Mungkin untuk memfasilitasi mereka yang tidak memiliki akses internet atau memerlukan pendampingan belajar khusus dari guru. Hanya perlu dipastikan guru, orangtua, dan siswa harus melaksanakan protokol pencegahan penularan virus.
Selain itu jumlah siswa perkelas juga dibatasi, maksimal 10 siswa dalam satu kelas. Jam tatap muka juga lebih menerapkan pertemuan berkualitas yang tidak lebih dari 2-3 jam perhari, dan tidak harus setiap hari. Sekolah membuat shift belajar di kelas yang diatur penjadwalannya.

Terapkan pembelajaran bauran

Guru juga perlu dilatih merancang pembelajaran bauran (blended learning) yang mengkombinasikan tatap muka di kelas dan pembelajaran daring. Model pembelajaran bauran ini bisa menjadi bagian dari kenormalan baru belajar.

Aspek penting "new normal" pembelajaran

 Beberapa ahli pendidikan juga telah menyampaikan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam mendefinisikan kenormalan baru dalam pembelajaran di masa pandemi. Apa saja?

1. Partisipasi aktif keluargat
Ketika pembelajaran berlangsung di rumah, maka anggota keluarga harus dilibatkan menjadi fasilitator pembelajaran.
Mereka dapat dilibatkan dalam memberikan bimbingan dan bantuan untuk membuat proses belajar menyenangkan bagi siswa. Tentunya hal ini perlu dukungan sekolah yang melatih peran keluarga dalam mendampingi anak belajar di rumah.
2. Pergeseran ruang belajar
Satu hal yang substansial dalam proses pembelajaran bukan terletak pada gedung sekolah atau ruang kelas.
Belajar sekarang terjadi di rumah, di dalam ruang pribadi anak. Pemanfaatan internet membuat ruang belajar dapat dilakukan melalui perangkat pribadi tanpa harus pergi ke suatu tempat secara fisik.
3. Pembelajaran individual dan berbeda
Individual dan berbeda berarti mengajar setiap siswa harus dilakukan secara unik. Tujuan pembelajaran mungkin tetap sama untuk sekelompok siswa tetapi siswa secara individu dapat berbeda.
Beberapa siswa mungkin belajar lebih baik melalui menonton video sementara beberapa perlu membaca buku bacaan. Aksesibilitas materi pembelajaran dan mendistribusikan sumber belajar dari rumah ke rumah dapat menjadi tantangan bagi guru.

Sumber:
https://edukasi.kompas.com/read/2020/05/31/172306571/menyiapkan-normal-baru-pembelajaran-yang-berpihak-pada-siswa-kita?page=all#page2
Cita Cita di masa covid-19


Di tengah pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia harus bersiap dengan new normal.Namun ini bukan halangan untuk saya meraih cita-cita.Untuk memperbaiki semua itu Saya harus lebih cerdas dalam menentukan apa yang harus dilaksanakan dan direncanakan dalam masa pandemi ini.

Saya sangat ingin sekali menjadi orang sukses agar bisa membuat bahagia kedua orang tua saya.

Saya akan belajar terus demi mencapai cita-cita saya.Saya berharap semoga pandemi ini cepat berakhir dan semoga saya akan menjadi lebih baik setelah ini


Selasa, 14 Juli 2020

Perkembangan dan menghadapi wabah covid-19

Perbedaan pendapat terus berlarut-larut di kalangan kepemimpinan pemerintah pusat dalam menentukan kebijakan membendung penyebaran wabah korona: apakah menerapkan 'penguncian ketat' (lockdown) atau 'karantina wilayah' atau 'karantina daerah'.

Tanpa menunggu 'arahan' pemerintah pusat, beberapa daerah, seperti Papua atau Kota Tegal menerapkan semacam lockdown atau 'karantina wilayah'. Daerah lain semacam Aceh dan Bekasi menerapkan 'jam malam'.

Di tengah ketidakjelasan, Presiden Jokowi sempat menyinggung tentang kemungkinan pemberlakuan 'darurat sipil' jika keadaan negara dan bangsa memburuk akibat wabah korona. Banjir protes muncul dari berbagai sektor masyarakat yang melihat 'darurat sipil' sebagai berlebihan dan berbahaya bagi kehidupan publik.

Setelah berada dalam ketidakpastian sepanjang Maret, barulah pada akhir bulan (31/3/2020), Presiden Jokowi mengeluarkan peraturan pemerintah (PP). PP ini berisi pemberlakuan 'Pembatasan Sosial Berskala Besar' (PSBB).

Namun, PP tentang PSBB ini tampak tidak mencerminkan respons cepat terhadap keadaan krisis—tidak terlihat 'sense of crisis'. Ada macam-macam syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi daerah sebelum permintaan pemberlakuan PSBB dapat disetujui Kementerian Kesehatan.

Di sini terlihat cara pandang dan perilaku business as usual dengan memberlakukan birokratisasi dan administrasi yang menyulitkan. Terlihat prinsip yang diberlakukan adalah: "Jika bisa dipersulit kenapa dipermudah".

Ketiadaan kepemimpinan yang jelas, tegas, dan bisa bergerak cepat itulah yang membuat gubernur atau wali kota atau bupati mengambil jalan sendiri. Menjelang PP PSBB terbit, pemda-pemda harus menghadapi mudiknya warga dalam jumlah besar yang potensial membawa virus korona ke kampung masing-masing; mereka menetapkan kebijakan sendiri.

Pemerintah pusat terlihat seolah tidak melakukan tindakan apa-apa terhadap kebijakan pemda-pemda tertentu. Presiden Jokowi hanya meminta kepada Mendagri Tito Karnavian menertibkan daerah yang mengambil langkah masing-masing. Menghadapi fenomena ini, tak ada alternatif lain kecuali konsolidasi kepemimpinan pemerintah pusat; dan pada saat yang sama tidak lagi membuat blunder.

Zona Zona di Indonesia
JAKARTA Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 terus memantau perkembangan penyebaran virus corona di Indonesia.
Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 juga telah menetapkan beberapa kriteria wilayah berdasarkan risiko penyebaran virus corona Covid-19
Penanganan COVID-19 telah merincikan empat level kriteria zonasi daerah berdasarkan warna, sebagai indikator kategori risiko COVID-19 yang dilihat dari tingkatan transmisi atau penyebarannya. 

Beberapa kriteria wilayah ini mulai dari wilayah berisiko : 
  1. Zona Hijau (Tidak Terdampak)
  2. Zona Kuning (Risiko Rendah)
  3. Zona Orange (Risiko Sedang)
  4. Zona Merah (Risiko Tinggi)
Dampak

Wabah virus corona (Covid-19) menghantam berbagai kegiatan ekonomi, yang imbasnya membuat masyarakat terdampak secara ekonomi akan adanya wabah ini. Pemerintah sendiri sudah mengucurkan jaring pengaman sosial guna mengatasi dampak wabah yang menjangkit secara global tersebut, terutama bagi warga miskin.
Namun, ada kategori masyarakat yang juga perlu diperhatikan. Apabila wabah Covid-19 berlarut tentu dampaknya mengancam ke semua level masyarakat.

Menurut Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menuturkan terdapat potensi dari kelas menengah, terutama menengah yang rapuh menjadi rentan miskin bahkan miskin lantaran pandemi ini.
Kelompok tersebut disebut Bhima termasuk korban PHK, warga yang kesulitan akses fasilitas kesehatan, terancam krisis pangan, dan berpenghasilan harian yang hilang selama pandemi.
"Kelas menengah yang rapuh mencapai 115 juta orang, ketika terjadi bencana seperti wabah Covid-19 mudah jatuh miskin. Kelompok ini termasuk para korban PHK, mereka yang kesulitan akses fasilitas kesehatan, terancam krisis pangan, dan berpenghasilan harian yang hilang selama pandemi," jelas Bhima saat dihubungi Kontan.co.id pada Minggu (3/5).
Guna atasi hal tersebut, Bhima menyampaikan perlu ada beberapa upaya dari pemerintah. Langkah kongkrit tersebut diantaranya pemerintah perlu melakukan pergantian model Kartu Pra Kerja menjadi BLT langsung ke korban PHK, dimana data didapatkan dari perusahaan yang melakukan PHK dimana kemudian ditransfer by name by address.

Bhima menambahkan perlu juga langkah lain seperti menurunkan harga BBM, adanya diskon LPG 3kg, hingga diskon tarif listrik untuk golongan 900 VA non subsidi, dan 1.300 VA.
"Terakhir memastikan harga pangan tetap stabil. Jangan sampai ada kelangkaan, misalnya gula pasir yang mulai hilang dari pasaran. Pasalnya, kontribusi fluktuasi harga pangan terhadap inflasi cukup dominan," jelas Bhima.

Solusi

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah infeksi virus Corona, di antaranya:

1. Mencuci tangan dengan benar

Mencuci tangan dengan benar adalah cara paling sederhana namun efektif untuk mencegah penyebaran virus 2019-nCoV. Cucilah tangan dengan air mengalir dan sabun, setidaknya selama 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan tercuci hingga bersih, termasuk punggung tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari, dan kuku. Setelah itu, keringkan tangan menggunakan tisu, handuk bersih, atau mesin pengering tangan.
Jika Anda adalah pekerja komuter yang berada di dalam transportasi umum, akan sulit untuk menemukan air dan sabun. Anda bisa membersihkan tangan dengan hand sanitizer. Gunakan produk hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60% agar lebih efektif membasmi kuman.
Cucilah tangan secara teratur, terutama sebelum dan setelah makan, setelah menggunakan toilet, setelah menyentuh hewan, membuang sampah, serta setelah batuk atau bersin. Cuci tangan juga penting dilakukan sebelum menyusui bayi atau memerah ASI.

2. Menggunakan masker

Banyak yang menggunakan masker kain untuk mencegah infeksi virus Corona, padahal masker tersebut belum tentu efektif. Secara umum, ada dua tipe masker yang bisa Anda digunakan untuk mencegah penularan virus Corona, yaitu masker bedah dan masker N95.
Masker bedah atau surgical mask merupakan masker sekali pakai yang umum digunakan. Masker ini mudah ditemukan, harganya terjangkau, dan nyaman dipakai, sehingga banyak orang yang menggunakan masker ini saat beraktivitas sehari-hari.
Cara pakai masker bedah yang benar adalah sisi berwarna pada masker harus menghadap ke luar, sementara sisi dalamnya yang berwarna putih menghadap wajah dan menutupi dagu, hidung, dan mulut. Sisi berwarna putih terbuat dari material yang dapat menyerap kotoran dan menyaring kuman dari udara.
Meski tidak sepenuhnya efektif mencegah paparan kuman, namun penggunaan masker ini tetap bisa menurunkan risiko penyebaran penyakit infeksi, termasuk infeksi virus Corona. Penggunaan masker lebih disarankan bagi orang yang sedang sakit untuk mencegah penyebaran virus dan kuman, ketimbang pada orang yang sehat.
Sedangkan masker N95 adalah jenis masker yang digunakan sebagai salah satu alat pelindung diri atau APD untuk petugas medis yang merawat pasien COVID-19.
Ketika melepaskan masker dari wajah, baik masker bedah maupun masker N95, hindari menyentuh bagian depan masker, sebab bagian tersebut penuh dengan kuman yang menempel. Setelah melepas masker, cucilah tangan dengan sabun atau hand sanitizer, agar tangan bersih dari kuman yang menempel.

3. Menjaga daya tahan tubuh

Daya tahan tubuh yang kuat dapat mencegah munculnya berbagai macam penyakit. Untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, Anda disarankan untuk mengonsumsi makanan sehat, seperti sayuran dan buah-buahan, dan makanan berprotein, seperti telur, ikan, dan daging tanpa lemak.
Jika bosan dengan makanan yang dimasak sendiri, Anda bisa membeli makanan siap saji atau makanan di restoran melalui layanan pesan antar, namun pastikan makanan tersebut bersih dan sehat. Bila perlu, Anda juga menambah konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter.
Selain itu, rutin berolahraga, tidur yang cukup, tidak merokok, dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol juga bisa meningkatkan daya tahan tubuh agar terhindar dari penularan virus Corona.
Beberapa informasi menyebutkan bahwa berjemur di bawah sinar matahari juga dapat mencegah infeksi virus Corona. Sayangnya hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.

4. Menerapkan physical distancing dan isolasi mandiri

Pembatasan fisik atau physical distancing adalah salah satu langkah penting untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Hal ini dapat dilakukan dengan cara tidak bepergian keluar rumah, kecuali untuk keperluan yang mendesak atau darurat, seperti berbelanja bahan makanan atau berobat ketika sakit.
Pembatasan fisik juga dilakukan dengan cara menjaga jarak minimal 1 meter dengan orang lain dan selalu menggunakan masker, terutama saat beraktivitas di tempat umum atau keramaian.
Selama menjalani physical distancing, Anda juga perlu menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit, diduga terinfeksi virus Corona, atau sudah dinyatakan positif COVID-19.
Jika Anda memiliki salah satu gejala COVID-19 yang bersifat ringan, memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah terjangkit virus Corona dalam 14 hari terakhir, atau pernah kontak dengan orang yang dinyatakan positif COVID-19, Anda dianjurkan untuk melakukan isolasi mandiri.
Selain itu, isolasi mandiri juga dianjurkan untuk dilakukan oleh orang yang berisiko tinggi terinfeksi virus Corona, seperti lansia atau orang yang memiliki penyakit penyerta, misalnya hipertensi, diabetes, atau daya tahan tubuh yang lemah.

5. Membersihkan rumah dan melakukan disinfeksi secara rutin

Selain kebersihan diri, menjaga kebersihan rumah juga sangat penting dilakukan selama pandemi COVID-19 berlangsung. Hal ini dikarenakan virus Corona terbukti dapat bertahan hidup selama berjam-jam dan bahkan berhari-hari di permukaan suatu benda.
Oleh karena itu, rumah harus rutin dibersihkan dan dilakukan disinfeksi secara menyeluruh, termasuk perabotan dan peralatan rumah yang sering disentuh, seperti gagang pintu, remote televisi, kran air, dan permukaan meja.
Saat membersihkan atau melakukan disinfeksi, Anda perlu menggunakan sarung tangan dan masker, serta mencuci tangan dengan air bersih dan sabun setelah selesai membersihkan rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus Corona yang mungkin saja terjadi.
Bila Anda mengalami gejala flu, seperti batuk, demam, dan pilek, yang disertai lemas dan sesak napas, apalagi bila dalam 2 minggu terakhir Anda bepergian ke daerah atau negara yang terjangkit infeksi virus Corona, segeralah periksakan diri ke dokter agar dapat dipastikan penyebabnya dan diberikan penanganan yang tepat.

Jika Anda ingin mendapatkan lebih banyak informasi mengenai gejala, langkah penanganan, dan tindakan pencegahan virus Corona, Anda dapat menggunakan fitur chat langsung dengan dokter di aplikasi ALODOKTER. Selain itu, Anda juga bisa membuat janji konsultasi dengan dokter di rumah sakit

Sumber:
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/q8qh0f282
https://www.google.com/amp/amp.kontan.co.id/news/inilah-pembagian-zona-wilayah-penyebaran-corona-berdasarkan-risiko
https://www.google.com/amp/amp.kontan.co.id/news/dampak-corona-masyarakat-kelas-menengah-rapuh-terancam-masuk-rentan-miskin
https://www.alodokter.com/ketahui-cara-untuk-mencegah-penularan-virus-corona